Refleksi dan Kesimpulan 1.1.a.8 fuad Rizki A
Nama ; Fuad Rizki Anggriawan
Kelas : A2
Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 PGP
Ketika
mendengar nama Ki Hajar Dewantoro (KHD), pastinya pikiran kita langsung tertuju
pada istilah Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut
Wuri Handayani. Ing Ngarso Sung Tulodo artinya di depan
memberikan teladan; Ing Madyo Mbangun Karso, artinya di tengah
memberi semangat dan Tut Wuri Handayani artinya di belakang
memberi dorongan.
Ketika
melihat ke belakang, saya tahu betul ungkapan KHD di atas namun belum menjiwai
dan mengamalkannya dalam peran saya selaku seorang guru. Jika saya menelisik
lebih dalam tentang Pemikiran KHD dalam modul 1.1 Program Guru Penggerak (PGP),
saya harus mengakui bahwa ada banyak anggapan yang saya yakini sebelum
mempelajari modul ini antara lain: Pertama, memandang anak-anak sebagai
gelas dan kertas kosong. Untuk diketahui bahwa saya adalah seorang
guru fisika. Fisika termasuk dalam pelajaran yang sulit bagi siswa. Atas dasar
ini, saya meyakini bahwa siswa pasti susah untuk memahami pelajaran Fisika.
Akibatnya saya sering memperlakukan siswa sebagai gelas kosong dan saya perlu
mengisinya dengan pengetahuan yang saya miliki dan menjadikan diri sebagai
satu-satunya sumber belajar. Bila gelas itu sudah penuh dengan pengetahuan maka
itu akan dianggap sebagai sebuah keberhasilan.
Dalam
hal pembentukan karakter, saya sering memperlakukan anak-anak layaknya kertas
kosong. Hal-hal yang saya anggap baik, itulah yang perlu saya coretkan pada
anak-anak. Saya menganggap bahwa watak mereka akan terbentuk melalui didikan
saya.
Kedua, memandang semua anak itu sama. Yang saya maksudkan adalah semua anak
punya harus diperlakukan sama dalam pembelajaran yang mana saya harus
menyeragamkan metode pembelajaran tanpa mempertimbangkan minat dan potensi
masing-masing anak. Di sisi lain dengan menyeragamkan metode pembelajaran maka
saya tidak perlu disibukkan dengan pengelolaan pembelajaran dalam kelas.
Ketiga, saya adalah penguasa kelas. Saat melaksanakan pembelajaran, saya
menganggap bahwa siswa harus mengikuti aturan saya dalam pembelajaran. Saya
punya kewenangan sepenuh untuk mengatur kelas menurut apa yang saya anggap
baik. Jika ada yang melanggar aturan yang saya buat dalam pembelajaran maka
saya berhak memberi hukuman. Keempat, fokus saya adalah mengajar. Yang
saya maksudkan adalah saya lebih berfokus menyelesaikan materi dan ketuntasan
anak-anak pada KKM serta pada aspek kognitif siswa semata. Nilai (grade) adalah
prioritas saya.
Setelah
mempelajari Pemikiran KHD dalam modul 1.1 PGP, pandangan saya berubah 180
derajat. Anggapan saya tentang keempat hal di atas yang saya yakini selama ini
adalah sebuah kekeliruan besar. Anggapan pertama bahwa yang memandang anak-anak
sebagai gelas dan kertas kosong bertolak belakang dengan pemikiran
KHD. Dengan pandangan tersebut maka secara tidak langsung menganggap anak
sebagai obyek dan saya selaku guru sebagai subyek. KHD menyatakan bahwa hidup
tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik.
Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup
dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Dengan demikian maka saya selaku
pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut.
Selanjutnya
saya memandang semua anak itu sama. Anggapan ini tentu keliru dan
tidak sejalan dengan pemikiran KHD. Menurut KHD setiap anak itu istimewa
adanya; mereka punya keunikan dan karakteristik tersendiri sebagai individu.
Saya sebagai guru seharusnya memberi tuntunan pada anak-anak menurut minat dan
potensi masing-masing. Hal ini sejalan dengan analogi dari KHD bahwa seorang
petani tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai
jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut
seperti hanya cara memelihara tanaman kedelai atau tanaman lainnya.
Anggapan
keliru saya yang berikutnya adalah menjadikan diri saya adalah penguasa
kelas. Hal ini tentu kontras dengan pandangan KHD yang harus berhamba pada
anak. Berhamba pada anak berarti menaruh rasa hormat dan siap melayani kebutuhan
anak dalam pembelajaran. Tentunya sebagai individu, kebutuhan belajar siswa
pastinya berbeda; hamba yang baik akan selalu melayani kebutuhan tuannya
sebagai pribadi yang unik dan menghormati keunikan itu.
Implikasi
dari berhamba pada anak adalah pembelajaran yang guru lakukan haruslah berpusat
pada siswa. Pembelajaran yang berpusat pada siswa berarti bahwa pembelajaran
harus menempatkan siswa sebagai pusat dari proses belajar mengajar, sehingga
akan mengembangkan minat, motivasi, dan kemampuan individu menjadi lebih aktif,
kreatif dan inovatif serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya
sendiri.
Anggapan
keliru saya yang terakhir adalah fokus saya adalah mengajar. Memang
benar bahwa tugas guru adalah mengajar namun menurut KHD itu belum lengkap.
Tugas saya selain mengajar adalah mendidik. Mengajar hanya berfokus pada
hal-hal bersifat lahiriah atau fisik sedangkan mendidik berfokus pada hal-hal
yang bersifat batiniah atau mental. Selain itu mengajar hanya tertuju pada
pencapaian nilai/grade sedangkan mendidik lebih diarahkan pada
pengembangan nilai/value pada anak.
Setelah
memahami pemikiran KHD dan menyadari kekeliruan saya, saya bertekad untuk mulai
melakukan perubahan pada pembelajaran yang saya lakukan. Saya akan memberi
ruang dan kebebasan pada anak-anak didik saya untuk menggali potensi mereka
menurut kodratnya masing-masing. Selain itu, pembelajaran yang selama ini
menjadikan saya sebagai subyek akan saya benahi menjadi pembelajaran yang
berpusat pada siswa. Ya, saya tahu betul bahwa membuat perubahan tidak seperti
membalik telapak tangan namun tidak ada salahnya mulai berubah dari sekarang.
Saya
juga berharap sekaligus bertekat untuk menjadi seorang guru yang menjiwai
semangat Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut Wuri
Handayani.
Komentar